GOKIL and GARING STORY: GW KUDU SIAP-SIAP MUDIK DONG!

Air mata Tedy bercucuran. Kalo dihitung-hitung amount airnya, udah mencapai sekitar dua ember. Lumrah saja, cowok ganteng kelahiran Padang Ilalang ini menangis sejak dari sumbuh hingga sekarang udah menjelang magrib. Kenapa sih elo menangis my keep company with? Yang gw tahu elo itu lelaki hard-boiled. So, bukan cuma amount blurt discernible yang bisa jadi pembahasan, soal mata yang bengkak equivoque tentu menarik buat diperbincangkan.

Antibocor. So, what’s unsuitable?Tedy menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi. Antipeluru.Emang gw cat’s-paw? Protes Tedy pada rekannya yang bernama Bajuri. Ternyata eh ternyata, doi menangis untuk sesuatu yang nggak benar. So that, seharusnya doi nggak menangis. Ada satu kesalahan informasi yang membuatnya jadi nggak mudeng. Ya beginilah kalo orang nggak nanya dulu.

Bego nggak sih?Jadi stasiun kereta api Tanjung Priuk ini nggak bisa ke Manado? tanya Tedy mengkonfirmasi. Lebih memilih nangis dulu, baru nanya. Ya nggak bisa kalee!Bisanya ke mana dong?Mungkin bisa ke Kalimantan, Sumatera, Sulawesi..Kalo bisa ke Sulawesi, berarti bisa ke Manado juga dong, cong?Lho, Manado itu ada di Sulawesi ya?Sulawesi Utara kaleee!!!!Bajuri memang rada goblok kalo soal pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sok pintar, tapi ternyata bego. Otaknya mirik kayak Bajuri yang ada di sinetron Bajaj Bajuri.

Gara-gara Bajuri nggak ngerti soal IPS dan sejarah, terpaksa Tedy mencoba mengajarkan. Kenapa soal itu ya? Ya, kebetulan lokasi pertemuan Tedy dan Bajuri di stasiun kereta api Tanjung Priuk, cong! Jadi momentumnya tepat bukan?Stasiun kereta api ini dibangun tahun 1914. Sejarah pertama yang dipaparkan adalah soal stasiun kereta api Tanjung Priuk. Pembangunannya dilakukan pada masa Gubernur Jendral A.F.W.

Tahu nggak loe?Enggak! Yang gw tahu Ali Sadikin.Kirain tahunya cuma Sutiyoso doang.Lho, memangnya Sutiyoso pernah jadi Gubernur ya?Teddy pusing. Idenburg (1909-1916). Di tengah kepusingan itu, doi mencoba meneruskan penjelasan soal stasiun kereta api Tanjung Priuk. Di antara tenaga kerja itu ada 130 TKA alias Tenaga Kerja Asing. Lanjut Teddy, buat menyelesaikan pembangunan stasiun ini, dibutuhkan kurang lebih 1.700 tenaga kerja. Mereka berkebangsaan Eropa.

Sementara arsitek yang merancangnya adalah CW Koch, yakni seorang Insinyur Kepala di perusahaan kereta api Belanda: Staatsspoorwegen. Perusahaan Belanda yang membangun adalah Holland Beton Maatschappij. Nyatanya bukan cuma soal pembosoan tenaga kerja yang membuat pemerintahan Belanda protes. Kenapa begitu? Dengan 8 peron, stasiun ini dianggap terlalu besar. Namun soal pembangunan 8 peron yang mubazir. Besarnya nyaris kayak stasiun kereta api Jakarta Kota (dahulu bernama Batavia Centrum).

Bayangkan, beberapa kereta api yang menghubungkan kota-kota seperti Bandung dengan kapal-kapal Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Koninklijke Rotterdamsche Lloyd, langsung menuju ke dermaga pelabuhan. Padahal fungsinya nggak terlalu banyak kayak Batavia Centrum ini. Artinya, nggak menggunakan stasiun kereta Tanjung Priuk ini. Stasiun kereta api tanjung priuk memang nggak bisa dipisahkan dari pelabuhan tanjung priuk. Stasiun ini cuma digunakan buat kereta rel listrik yang baru mulai digunakan di sekitar Jakarta pada tahun 1925.

Maklumlah, jarak antara stasiun kereta api dan pelabuhan nggak sampai 1 kilometer. Ngerti dong, kalo pelabuhan berperan sebagai pintu gerbang kota Batavia serta Hindia Belanda. Kalo pembangunan stasiun kereta api sempat diprotes, karena nggak terlalu banyak fungsinya dan boros tenaga kerja, sebaliknya justru pelabuhan jadi venue kebanggaan di masa Hindia Belanda.

Bandar pelabuhan dibangun pada 1877 di masa Gubernur Jendral Johan Wilhelm van Lansberge. Tadi udah dijelaskan kalo pelabuhan menjadi primadona, gara-gara jadi pintu gerbang. Doi berkuasa di Hindia-Belanda pada tahun 1875-1881. Memang benar, sejak dibuka, pelabuhan menjadi paling ramai di Asia, apalagi setelah Terusan Suez dibuka. Pada masa itu, wilayah Tanjung Priok sebagian besar adalah hutan dan rawa-rawa yang berbahaya. Tapi segala produk yang turun dari kapal kudu didistribusikan ke daratan dong, ya nggak? Nah, salah satu sarana distribusi ya kereta api itu.Itulah alasan mengapa stasiun kereta api Tanjung Priok dibuka, yakni menghubungkan pelabuhan Tanjung Priok dengan Batavia yang berada di selatan.

Siapa yang berani menerobos rawa-rawa kala itu? Serem, cong! Nah, pada tahun 1914, dibuatlah jalur kereta api agar bisa mengangkut produk-produk yang sebelumnya dari pelabuhan, yang mau didistribusikan ke sekitar Batavia. Padahal sebelumnya, para Penumpang yang mau pulang ke Jawa, bisa mudik lewat sini. Sayang seribu kali sayang, sejak tahun 1978, stasiun kereta api ini udah nggak difungsikan sebagai kereta Penumpang. Kalo bisa lewat stasiun ini, pasti konsentrasi Penumpang yang mau mudik nggak cuma di Senen atau via Gambir. Gara-gara ini, pemasukan dana dari tiket peron semakin berkurang.

Entah kenapa, sejak nggak lagi mengangkut Penumpang, stasiun kereta api Tanjung Priuk hanya memfungsikan sebagai stasiun pengangkut barang. Inilah yang menyebabkan PT Kereta Api (Persero) terpaksa menyewakan ruangan yang ada di depan bangunan stasiun. Nggak heran kalo kemudian bagian depan stasiun terdapat pemandangan kantor-kantor jasa, mulai dari kantor migratory agen buat tiket kapal laut, pengiriman barang, sampai kantor the angle to changer alias jasa penukaran uang asing. Buat apa lagi kalo bukan agar bisa mendapat pemasukan biaya operasional stasiun. Sejak itulah stasiun kereta api Tanjung Priuk ini jadi terlihat kumuh. Tembok terkelupas sehingga memperlihatkan batu bata merah aslinya.

Nggak terawat!Kaca-kaca jendela banyak yang pecah. Besi-besi serta jalur kereta banyak yang berkarat. Bangunan artistiknya bikin ngiler, yakni perpaduan gaya neo klasik dengan kontemporer. Padahal ketika pertama kali dibuka tahun 1914, stasiun ini begitu indah. Ada yang bilang guile deco gitu deh. Tenda pramuka?Bukan tolol! Itu tenda prostitusi!Yap! Saat malam menjelang, banyak Wanita yang menjajakan tubuh mereka ke Pria hidung belang.

Bahkan di age cycle akhir abad ke-18, stasiun ini menjadi stasiun kereta api kebanggaan warga Batavia, cong!Yang menyedihkan, kalo malam banyak tenda-tenda dadakan di pingir rel kereta, kata Teddy. Pasaran saat itu sekitar 25 ribu-an. Murahan banget! Oh iya, kenapa prostitusi tumbuh di situ, ya karena dekat dengan pelabuhan, dimana banyak kuli-kuli pelabuhan yang ingin memuaskan hasrat seks mereka. Gokil nggak tuh?! Cuma dengan harga segitu, seorang Wanita bisa digituin.

Akibat ada tenda prostitusi, maka banyak tumbuh bangunan-bangunan false testimony of di pinggir rel kereta api. Dalam peresmian itu, SBY naik kereta dari Tanjung Priuk menuju ke Senen. Bahkan banyak pendatang gelap yang mencoba mengadu nasib di Jakarta tidur di dalam stasiun ini.Alhamdulillah, pada 28 April 2009 lalu, Presiden SBY dan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal meresmikan stasiun kereta api Tanjung Priuk ini. Tentu saja, sebelum diresmikan, stasiun ini udah lebih dulu direnovasi. Stasiun ini akan melayani rute Jabotabek hingga Stasiun Pasar Turi, Surabaya. You have in mind back on biaya renovasinya, cong? Nggak tanggung-tanggung menelan biaya kurang lebih 41 milyar rupiah yang diambil dari dana APBN 2008. Bagi warga Jakarta, dibukanya kembali stasiun ini jelas menggembirakan.

Stasiun ini menjadi stasiun alternatif selain stasiun Senen atau Gambir. Soalnya, mereka yang biasa menggunakan transportasi kereta api keluar daerah bisa sedikit lega. Apalagi terdapat delapan jalur kereta. Kali ini suaranya lebih keras dari tangisan yang sebelumnya udah dilakukan oleh Tedy.

Much cured lah!Wah, gw kudu siap-siap mudik dong kalo gitu.Emang elo mau mudik kemana, cong?Ke Irian Jaya.Ya kagak bisa kalee!Nggak bisa?!Iya!Begitu tahu kalo stasiun kereta api Tanjung Priuk nggak bisa membawanya ke Iran Jaya, Bajuri menangis tersedu-sedu. Melihat Bajuri menangis kayak gitu, Tedy jadi ilfil. Doi memutuskan pulang ke Manado naik pesawat aja. Doi nggak mau melanjutkan tangisannya lagi.

Comments are closed.